"TITIK HIDUP"

Friday, November 26, 2004

Mengikuti YANG JAHAT itu salah apalagi YANG BAIK !

Jelasnya, “mengikuti yang jahat saja sudah salah apalagi mengikuti yang baik”. Lho, aneh betul kalimatnya. Ini orang yang nulis pasti gila. Apakah maksudnya mengikuti yang baik itu justru lebih buruk ?

Kepada para blogger setia, begitulah reaksi anda umumnya ketika membaca sepenggal kalimat di atas tadi. Kaget dan bertanya-tanya. Justru itu reaksi yang sangat bagus yang menandakan bahwa anda senantiasa berpikir kritis. Pertanda otak anda sudah siap untuk berputar.Lucunya, padahal itu tadi hanyalah sebuah kalimat yang berupa susunan beberapa obyek yang bernama huruf. Tapi penyusunannya itu bisa memberikan efek yang dahsyat. Masalah kalimat di atas itu hanya sepele dan cuma satu , yaitu kata ‘mengikuti’. Jikalau diperjelas lagi, mengikuti yang jahat itu salah, mengikuti yang baik juga salah.

Pertanyaannya adalah mengapa harus ‘mengikuti’ ?
Kalau ‘mengikuti’ saya jadi ingat seekor kerbau yang dicocok hidungnya dan terpaksa harus berjalan mengikuti pak tani sebab jika tidak hidungnya pasti terluka. Kesannya kok tersiksa ya. Atau ketika kita sebagai orang taat beragama lantas kita harus mengikuti perintah Tuhan. Kesannya kok terpaksa ya, terbelenggu. Jadi mirip doktrin, pokoknya ikuti titik ! Kalau tidak masuk neraka ! Akhirnya perasaan kita jadi ketakutan terus, takut masuk neraka. Hidup di dunia malah mirip di neraka. Kanan kiri banyak panasnya ketimbang adem. Lambat laun malah kita bisa jadi pesimis.

Jika mengikuti yang baik ternyata juga membuat kita terbelenggu lantas yang bebas dan merdeka itu seperti apa ?

Yang bebas dan merdeka itu adalah yang tidak ‘mengikuti’. Yang bebas dan bahagia itu yang ‘menjalani’. Perbedaan keduanya sangatlah jauh; 'mengikuti' itu berarti anda tidak punya pilihan lain, anda tidak tidak diberi kesempatan memilih jalan, anda terpaksa harus setia menjalani apa yang anda jalankan tanpa anda bisa membandingkannya dengan yang lain. Ada yang memilihkan jalan anda secara sepihak tanpa berkompromi dulu dengan anda. Apakah kerbau yang dicocok bisa memilih jalan lain selain jalan yang dilalui pak tani ? Nilai dari mengikuti adalah keterpaksaan.

‘Menjalani’ berarti anda berdiri di suatu titik di mana tergelar banyak jalan di depannya. Ketika anda sudah berhasil melihat semua pilihan, ketika anda sudah bisa membandingkan dan mempertimbangkan di situlah anda mulai menentukan rencana perjalanan anda. Anda akan memilih salah satu dari jalan itu. Nilai dari menjalani adalah kebebasan/kemerdekaan (freedom). Tidak ada orang yang memilihkannya untuk anda kecuali diri anda sendiri. Nilai ekstranya, ketika anda menjalani berarti anda sudah paham akan tindakan anda. Anda ‘menjalani’ suatu jalan karena anda paham. Anda paham kemana tujuannya. Anda sudah tidak khawatir lagi karena anda sudah tahu.

Jika menjalani tanpa kepahaman jelas bukan ‘menjalani’, tapi ‘mengikuti’ (atau ikut-ikutan). Mana ada istilah ‘menjalani yang buruk’ yang ada ‘mengikuti yang buruk’ sebab yang buruk memang tidak bisa dijalani selain diikuti. Seperti ketika ada dua jalan dihadapan anda yang satu rusak berat dan yang satu mulus dan lancar, lalu anda justru mengambil jalan yang rusak orang-orang pasti bilang ‘ini orang ngga ngerti, mabuk atau gila’. Tetapi jika jalannya hanya satu yang rusak berat atau yang mulus saja, berarti anda terpaksa mengikutinya. Ketika melewati jalan yang mulus pun anda masih tidak tenang dan khawatir karena anda selalu berpikir ‘masih adakah jalan yang lebih mulus dari ini ?’

Manusia diberikan akal dan hati nurani untuk menimbang dan menilai. Menimbang dan menilai adalah sifat dasar manusia. Fungsinya adalah sebagai prosesor dalam rangka mendefiniskan kebenaran. Seseorang itu mulai gelisah karena ia tidak diberi kesempatan untuk memilih dan membandingkan. Bisa dikarenakan tidak adanya pilihan, atau dipilihkan, atau bisa juga pilihan itu disembunyikan. Kadang ada juga yang sudah bisa melihat pilihan tapi tetap tidak mau memilih (memilih yang lebih baik maksudnya). Ini dikarenakan dia sudah terlalu lama dan terlanjur terbiasa ‘mengikuti’. Baginya kesempatan untuk ‘menjalani’ menjadi ketakutan tersendiri. Dalam kasus terakhir ini akal dan hati nuraninya sudah berhasil dilumpuhkan. Dia sudah tidak bisa memilih tetapi dipilihkan (karakteristik perbudakan, robotisasi). Kerbau tidak akan pernah komplain dicocok hidungnya karena ia kerbau. Terbayangkah jika si pak tani tercebur jurang, pasti si kerbau mau tak mau terikut untuk menyelamatkan hidungnya. Sangat sangat berbahaya !

“Kita menjalani karena tahu jalan, kita mengikuti karena tidak tahu jalan” Yang membedakan ternyata hanya satu, mengetahui (tahu).

Pengetahuan kita atas sesuatu akan menambah urutan pilihan dalam hidup. Berarti kesempatan yang semakin besar untuk ‘menjalani’ dan semakin kecil untuk ‘mengikuti’ (dikendalikan, dipilihkan). Pengetahuan yang semakin besar menambah besar kesempatan kita untuk memerdekakan diri dan memperkecil peluang kita untuk diperbudak. Kita mulia karena kita tahu. Seperti kata filsuf perancis Rene Descartes , “cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada (eksis)

Ternyata… resep dari pembebasan yang dicari-cari itu sangat sederhana ‘pengetahuan dan rasa ingin tahu’.

“Janganlah mengikuti sesuatu yang kamu tiada pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan diminta pertanggung jawabannya” (Holy Qur’an, Al Isra : 36)
-----------------------------------------------------------------------------
“Kita ‘menjalani’ karena itu keinginan kita, ‘mengikuti’ belum tentu keinginan kita” Use your mind to define your choice !


dalam prakteknya nanti anda bisa lihat di topik : filosofi penjajahan

Wednesday, November 24, 2004

Seandainya Tuhan tiada

Seandainya Tuhan tiada..
Akankah kamu berhenti merusak paru-parumu dengan asap rokok ?
Akankah kamu berhenti meracuni darahmu dengan alkohol ?
Akankah kamu berhenti mencandu pikiranmu dengan mariyuana ?
Akankah kamu berhenti mempolusi diri mu dengan kemaksiatan ?

Sesungguhnya kamu tahu DIA ada
Dan kamu lakukan itu untuk melupakanNya

dan setelah DIA ada..
Akankah kamu berhenti memukuli yang di seberang jalanNya ?
Akankah kamu berhenti melempari yang di seberang jalanNya ?
Akankah kamu berhenti meledakan yang di seberang jalanNya ?
Akankah kamu berhenti menyoraki yang di seberang jalanNya ?

Sesungguhnya kamu tahu DIA tidak di sisimu
Dan kamu lakukan itu untuk menutupi kebodohanmu

Kamu lupa karena tercandu
Kamu bodoh karena tak berilmu. THINK!

---------------------------------------------------------
“Cahaya itu yang menerangi ruang yang gelap, dan bukan membakarnya”

(suatu potret ketika saya melihat orang-orang mulai tidak percaya kepada Tuhan hingga over percaya kepada Tuhan. Tuhan rasanya tidak butuh dipercaya, sebab dengan tidak bunuh diri saja Tuhan sudah tahu bahwa kita percaya kepadaNya. Dan Tuhan ingin manusia meniru sifat kasih-sayangNya. Tuhan tidak pernah membunuh, tetapi manusia yang membunuh karena kebodohannya.)